Ayah, yang Tak Pernah Lelah.

Halo ayah!

Tulisan ini aku tulis untuk ayahku satu-satunya yang nggak pernah lelah dalam hidupnya. Entah kata apalagi yang lebih tinggi dari terima kasih selain do'a yang bisa ku panjatkan untuk membalas semua perlakuannya, usahanya, air matanya, keringatnya, dan rasa lelahnya. 

Ayahku juga sama seperti manusia lainnya. Dia tak sempurna. Tapi dia selalu berusaha menjadi sempurna untuk ibuku, aku, dan adik-adikku. Dia selalu berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dalam menjalani perannya sebagai seorang suami sekaligus ayah.

Aku dan Ayah.

Saat kecil dulu, aku juga pernah merasakan hal-hal tidak mengenakan yang tentu saja berbekas di memoriku hingga saat ini. Tapi, aku tau ayah juga manusia biasa yang pernah berbuat kesalahan, perlu belajar, dan berubah menjadi lebih baik lagi. Tapi kini ayah mampu mengubah hal-hal tidak mengenakan itu menjadi hal yang paling membahagiakan dan penuh rasa syukur. Ayah mampu mengubah bayang-bayang hitam itu menjadi cahaya warna-warni yang indah.

Lagipula, ini pertama kalinya ia menjadi seorang ayah dalam hidupnya. Saat aku berusia 5 tahun, itu pertama kalinya ia menjadi seorang ayah yang memiliki anak berusia 5 tahun. Saat aku berusia 13 tahun, saat itu pula ia menjadi seorang ayah yang memiliki gadis belia yang beranjak remaja. Saat aku berusia 20 tahun, saat itu pula ia menjadi seorang ayah yang memiliki gadis remaja yang lebih matang dari sebelumnya. 

Seiring bertambahnya usiaku, tentu saja semua bentuk khawatirnya berubah. Dari yang dimarahin saat jam 9 malam aku masih main di rumah tetangga, sampai ditelpon berkali-kali saat jam 12 malam aku belum juga sampai di rumah. Sesekali ayah memang marah, dan dulu aku takut sekaligus kesal ketika ayah marah dan menyuruhku cepat pulang. Tapi kini aku tau itu bentuk rasa khawatir dan rasa sayangnya.

Saat usiaku 18 tahun, ayah bertahap membebaskanku ke dunia yang penuh duri ini dengan persyaratan. Ayah membebaskanku dengan syarat ia sudah yakin betul anaknya bisa berjalan di atas duri itu dengan hati-hati. Dari yang awalnya ayah mengantar dan menjemputku di sekolah, sampai akhirnya aku dilepas untuk berangkat dan pulang sekolah sendiri. Bahkan sampai aku kuliah dan bekerja pun ayah masih melakukannya. Tidak peduli sejauh dan selama apapun jarak dan waktu yang ditempuh, ia dengan sabar menunggu dan menemani anaknya dalam semua "pertama kali" di hidupnya.

Bagi ayah, bahagiaku adalah bahagianya. Sedihku juga adalah sedihnya. Saat aku pertama kali merasakan jatuh cinta kepada lelaki lain, dia yang paling cerewet minta dikenalkan. Dia harus tau siapa lelaki itu. Ayah harus tau siapa dia lelaki yang menjemput anak gadisnya ke rumah lalu pergi berdua begitu saja dan pulang malam hari. Saat aku sedang berada di "taman bunga" dengan lelaki itu, ayah juga memberikan support dengan cara "membelikan tiket" untuk kami berdua pergi ke taman bunga itu. Ayah memberikan izin untuk aku mendapatkan bahagiaku yang bahkan dengan lelaki lain selain ayah.

Pun saat aku merasakan patah hati pertamaku. Tangannya dengan sigap merangkul pundakku dan mengusap air mataku yang turun begitu deras bak hujan di bulan November. Nasihat dan perkataannya yang mendukung sekaligus membangkitkan aku yang saat itu sedang terjatuh karena lelaki pilihanku sendiri. Ayah bertanya apa yang harus ayah dan ibu lakukan sekarang untuk membuatku kembali bahagia dan tersenyum. Ayah terus menemaniku saat aku terpuruk kala itu. Bahkan ayah tidak mengajariku untuk membenci lelaki yang dianggap anaknya sendiri pada saat itu membuat anak perempuannya menangis dan kehilangan nafsu makan. Fokus ayah hanyalah kepada diriku, kepada bahagiaku. Lelaki asing itu pergi, tetapi ayah tidak, dan tidak akan pernah.

Untuk Ayahku.

Aku tak tau harus sampai berapa lembar kalau aku menuliskan semua bahagia dan syukurku memiliki ayah sepertimu. Aku juga tak tau bagaimana hidupku tanpa hadirnya ayah. Ayah, aku bukan anak yang sempurna. Aku mungkin juga tak baik dalam menunjukkan rasa sayangku padamu. Menulis adalah salah satu caraku menunjukkan rasa sayang. Ayah percayalah, aku sangat amat bahagia sekaligus bangga mempunyai ayah sepertimu. Tetap dukung dan temani aku ya, sampai ayah melihat cucuku nanti.

Di hari ini, Minggu, 12 November 2023 pada Hari Ayah Nasional, tulisan ini ku persembahkan untukmu Ayah. 

Selamat hari ayah, Ayahku.

Comments

Popular posts from this blog

Sharing is Caring.